Menikmati karya-karya Iwan Fals ibarat meniti perjalanan hidup yang sarat rona. Antara yang baik dan buruk, yang sedih dan yang bahagia, yang tragis dan komedi. Silih berganti.Iwan Fals ibarat berita. Kita bisa membaca, menyimak, dan mendengarkan kabar apa saja di balik lagu-lagu yang dilantunkannya. Iwan menuturkan sekaligus menggugat. Suara Iwan Fals adalah suara rakyat yang terpinggirkan. Bukan sesuatu yang hiperbolik jika suara Iwan Fals adalah refleksi zaman dari berbagai sekat dan dimensi kehidupan. Simak saja lagu tentang buruh yang terkena PHK:
Pesangon yang engkau kantongi
Tak cukup redakan gundah
Tajam pisau kepalan tangan
Antarkan kau ke pintu penjara
Tak cukup redakan gundah
Tajam pisau kepalan tangan
Antarkan kau ke pintu penjara
Kaum marginal memang merasa terwakili dengan sederet kata-kata yang dibungkus Iwan dalam melodi yang gundah, sarat amarah tapi mudah dicerna dan disenandungkan. Seorang guru pun merasa terwakili dalam sudut pandang Iwan.
Oemar Bakrie banyak ciptakan menteri
Oemar Bakrie, profesor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri
Oemar Bakrie, profesor, dokter, insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri
Juga tentang betapa masygulnya nasib kaum papa yang dianggap sebelah mata dalam 'Ambulance Zig Zag':
Kalau diantara kita jatuh sakit
Lebih baik tak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter disini
Terkait di awan tinggi
Lebih baik tak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter disini
Terkait di awan tinggi


1 komentar:
alus keneh si oky abdul adim atuh awakna mah
Posting Komentar